Categories
Aktivitas Perusahaan Artikel Konstruksi

Perbaikan Tanah dengan Metode Soil Stabilizer

Soil stabilization (stabilisasi tanah) adalah cara untuk meningkatkan kemampuan dan kinerja tanah setempat, pasir dan bahan limbah lainnya dalam rangka memperkuat perkuatan jalan. Simak penjelasannya!

Perlahan tanpa melakukan proses rekayasa, dengan hanya melakukan proses try and error saja, stabilisasi tanah terus berkembang. 

Teknik stabilisasi tanah juga mulai dilakukan dengan cara yang dianggap ramah lingkungan, seperti: enzim, surfaktan, biopolymer, polimer sintetis, resin, stabilisasi ionic, penguat serat, kalsium klorida, natrium klorida dan lain lain. Beberapa teknik stabilisasi tanah yang baru berhasil mengurangi penetrasi air ke dalam lapis pekerasan secara signifikan.

Soil Stabilizer

Soil stabilization adalah metode perbaikan tanah untuk dapat memenuhi spesifikasi teknis material dalam aplikasi keteknisipilan. Stabilisasi tanah dapat dilakukan secara mekanis dan kimiawi.

Stabilisasi secara mekanis adalah dengan memperbaiki sifat tanah secara fisik. Hal ini biasanya dilakukan dengan mengurangi volume rongga udara pada kadar air optimum pada proses pemadatan (compaction) dilakukan.

Sedangkan stabilisasi secara kimiawi dilakukan dengan memperbaiki gaya ikatan secara mikro antara butir tanah dan bahan pembantu. Salah satu stabilisasi kimiawi adalah dengan cara ion exchange, merupakan bahan aditif yang berfungsi memadatkan (solidifikasi) dan menstabilkan (stabilizer). 

Selain efisien, penggunaan stabilisasi tanah ini juga efektif karena kebutuhannya bisa disesuaikan dengan tingkat kualitas jalan yang diinginkan. Stabilisasi tanah tidak hanya dapat diaplikasikan pada konstruksi jalan raya, akan tetapi juga sebagai pondasi pada tanah lunak, tanah ekspansif dan tanah gambut. 

Berikut keuntungan penggunaan Soil Stabilizer untuk lapisan jalan :

  • Meningkatkan parameter daya dukung tanah pengganti lapis perkerasan atas (LPA) dan lapisan perkerasan bawah (LPB).
  • Jalan menjadi tidak lembek/becek saat musim hujan dan tidak berdebu saat musim kering.
  • Jalan dapat dilalui pada hari ke 4 (curing time 4 – 14 hari), tergantung tanah dan cuaca.
  • Sesudah curing time, semakin terendam air semakin baik, tanah yang distabilisasi akan menjadi lebih keras.
  • Memperkecil permeabilitas tanah sehingga dapat digunakan sebagai lapis kedap air (substitusi geosintetik dan beton).
  • Memaksimalkan fungsi bahan stabilitas lain seperti semen pc dan kapur.
  • Meminimalkan settlement.

Aplikasi Penggunaan Soil Stabilizer Dalam Perkerasan Jalan

Konstruksi jalan dengan menggunakan Soil Stabilizer memiliki kelebihan karena nilai CBR dapat direkayasa sesuai kebutuhan, yang disesuaikan dengan beban lalu lintas.

Teknik Pengaturan nilai CBR dilakukan dengan memperbaiki gradasi tanah dan penggunaan semen. Nilai CBR dapat direkayasa hingga CBR lebih besar dari 100%. Nilai CBR yang tinggi akan mengurangi tebal konstruksi lapis keras. Keunggulan lain dari konstruksi jalan menggunakan Soil Stabilizer, adalah nilai CBR akan meningkat berbanding lurus terhadap waktu. Sedangkan pada konstruksi jalan konvensional dengan batu, nilai CBR berbanding terbalik terhadap waktu, atau menurun dengan bertambahnya umur jalan.

Seperti sudah diketahui, perkerasan jalan berfungsi meneruskan beban lalu lintas kendaraan ke tanah dasar (sub grade). Alasan inilah yang menyebabkan jenis dan dimensi perkerasan harus sedemikian rupa sehingga tanah dasar mampu mendukung beban dan penurunan yang mungkin terjadi, serta masih dalam toleransi yang aman bagi suatu jalan. 

Tanah dasar berfungsi menopang beban perkerasan yang berasal dari kendaraan yang melewati jalan tersebut. Oleh karena itu perencanaan suatu perkerasan jalan sangat ditentukan oleh kondisi tanah dasar.

Permasalahan sering terjadi saat musim hujan dengan kondisi basah dimana CBR turun drastis sehingga praktis tidak lagi dapat dilewati. Perkerasan dengan Soil Stabilizer akan menjadikan tanah yan bermasalah saat musim hujan namun tetap solid untuk digunakan. Mekanisme kerja Soil Stabilizer dengan melarutkan asam humus pada permukaan butiran tanah mengakibatkan semen dapat mengikat kuat pada partikel tanah serta Soil Stabilizer berfungsi mengoptimalkan stabilisasi tanah – semen. Oleh karena itu campuran tanah semen dengan Soil Stabilizer memiliki nilai kuat dukung yang tinggi. Konstruksi seperti ini mampu mencegah terjadinya kerekanan dan memiliki permeabilitas rendah.

Keuntungan Konstruksi Jalan Soil Stabilizer :

  • Berbeda dengan perkerasan konvensional yang mengalami reduksi kekuatan, soil stabilizer justru mengalami peningkatan kekuatan seiring waktu, hal ini dimungkinkan terjadi karena reaksi hidrasi semen masih berlanjut.
  • Menghemat biaya, lapis perkerasan jalan dengan soil stabilizer yang tipis mengakibatkan penghematan biaya konstruksi. penghematan berasal dari biaya pembelian material, proses pelaksanaan pekerjaan, tenaga kerja dan waktu pelaksanaan yang lebih singkat.
  • Komponen soil stabilizer mampu menyisihkan air (water repellent) karena ikatan ion tanah – soil stabilizermemiliki energi ikatan yang lebih tinggi dari ikatan tanah – air. ketahanan terhadap air ini menyebabkan konstruksi jalan soil stabilizer tidak mengalami reduksi kekuatan akibat keberadaan air. sedangkan campuran tanah dan bahan penstabil tanah lain pada umumnya tidak mampu menyisihkan air, khususnya yang berbahan baku polimer.
  • Meninimalisasi penggunaan batu pecah juga berimplikasi pada kelestarian lingkungan terutama pada galian batu, karena bahan konstruksi menggunakan material setempat mencapai nilai 90%.
  • Meningkatkan daya dukung tanah dasar serta dapat diaplikasikan dengan proses pelaksanaan dan alat sederhana.

One reply on “Perbaikan Tanah dengan Metode Soil Stabilizer”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat via WA
Anda butuh bantuan?
Hello,
Apa yang bisa kami bantu?